Makkah, Chatour Travel – Memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, jutaan umat Islam dari seluruh penjuru dunia, termasuk ribuan jamaah asal Indonesia mulai memadati Tanah Suci. Berdasarkan laporan resmi yang dirilis The Islamic Information, otoritas terkait mencatat sebanyak 96,6 juta jamaah telah mengunjungi Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah hanya dalam 20 hari pertama Ramadan 1447 H / 2026 M. Dari jumlah tersebut, Masjidil Haram sendiri melayani lebih dari 73,2 juta kunjungan, sebuah angka yang diprediksi akan terus meningkat tajam hingga malam penutupan Ramadan.
Di tengah kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil dan kenaikan biaya hidup yang signifikan, tidak melunturkan semangat beribadah masyarakat justru sebaliknya, antusiasme untuk mengejar keutamaan malam Lailatul Qadar di Dua Masjid Suci (Haramain) justru mencapai titik tertinggi.
Investasi Spiritual di Tengah 'Super Peak Season'
Sudah bukan rahasia lagi bahwa 10 hari terakhir Ramadan adalah periode super peak season. Biaya paket umrah pada periode ini melonjak drastis, seringkali menyentuh angka dua hingga tiga kali lipat dibanding bulan-bulan biasa.
Kenaikan harga tiket pesawat dan tarif hotel di sekitar pelataran masjid menjadi faktor utama. Meski demikian, banyak jamaah yang menganggap ini sebagai "investasi akhirat" yang sepadan.
"Kalau dihitung secara logika ekonomi memang berat. Namun, niat kami sudah bulat. Kami menabung lebih lama dan melakukan penyesuaian gaya hidup demi bisa itikaf di sini," ujar Sari(30), salah satu jamaah Chatour Travel ditemui di pelataran Masjidil Haram.
Perjalanan mengejar 10 hari terakhir bukan sekadar urusan finansial. Ada tantangan nyata yang menuntut kesiapan mental dan fisik prima:
- Kepadatan di Luar Batas: Kepadatan di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi mencapai puncaknya. Masjidil Haram sendiri telah menerima lebih dari 73,2 juta kunjungan dalam 20 hari pertama. Jamaah dituntut memiliki kesabaran ekstra saat melakukan tawaf, sa'i, maupun sekadar mencari shaf untuk shalat fardu.
- Stamina Ekstrem: Ibadah intensif seperti Itikaf, Qiyamul Lail, dan Tarawih di tengah kepadatan ekstrem membutuhkan kondisi fisik yang sangat kuat.
- Logistik dan Akomodasi: Dengan harga yang melambung, banyak jamaah yang harus bersiap dengan fasilitas yang mungkin lebih sederhana atau lokasi hotel yang sedikit lebih jauh dari biasanya.
Tips Persiapan Menuju Tanah Suci
Pihak manajemen Chatour Travel menekankan pentingnya manajemen ekspektasi bagi jamaah. "Persiapan fisik adalah kunci. Kami selalu menyarankan jamaah untuk melatih ketahanan fisik dengan jalan santai secara rutin sebelum keberangkatan," ungkap Haikal Ridha, Manajer Chatour Travel.
Selain itu, pemilihan tour leader dan muthowif yang berpengalaman menjadi krusial untuk memastikan kenyamanan jamaah di tengah padatnya Makkah. Dengan pengaturan jadwal yang tepat, jamaah bisa lebih fokus beribadah tanpa harus terbebani masalah teknis di lapangan.
Fenomena membludaknya jamaah di tengah kenaikan biaya operasional ini mencerminkan prioritas spiritual yang tetap stabil di masyarakat. Tingginya angka kunjungan yang mencapai puluhan juta tersebut menjadi indikator bahwa urgensi pelaksanaan itikaf dan pengejaran malam Lailatul Qadar tetap menjadi penggerak utama perjalanan religi global.
Meskipun tantangan ekonomi dan kepadatan fisik di lapangan semakin meningkat setiap tahunnya, komitmen jamaah untuk menuntaskan ibadah di tanah suci tetap konsisten. Manajemen perjalanan yang profesional kini menjadi faktor penentu bagi jamaah dalam menghadapi dinamika super peak season yang semakin kompleks di masa mendatang.
Penulis: Tim Redaksi Chatour Travel
Editor: RedaksI CHA