Izin Resmi Kemenag RI PPIU: No. 81202142726030005 | PIHK: No. 81202142726030006

Menelusuri Sejarah dan Kedudukan Mulia Hajar Aswad dalam Ibadah Umroh

30 September 2026 20:28
Menelusuri Sejarah dan Kedudukan Mulia Hajar Aswad dalam Ibadah Umroh

Mekkah– Di setiap putaran tawaf mengelilingi Ka’bah, terdapat satu titik di sudut timur bangunan suci tersebut yang senantiasa menjadi pusat perhatian jutaan umat Islam dari seluruh dunia. Batu berwarna hitam yang dikenal sebagai Hajar Aswad ini berdiri kokoh sekitar 1,5 meter dari permukaan lantai tawaf, bertindak sebagai penanda titik awal sekaligus titik akhir rangkaian ibadah tawaf.

Kedudukan Hajar Aswad begitu istimewa dalam sejarah Islam. Berdasarkan berbagai hadis sahih, batu ini diturunkan dari surga. Rasulullah SAW bersabda bahwa Hajar Aswad awalnya berwarna lebih putih daripada susu, namun seiring berjalannya waktu warnanya berubah menjadi hitam sebagai simbolisasi refleksi atas dosa-dosa manusia.

Sejarah Tauhid dan Kebijaksanaan Rasulullah SAW

Keberadaan Hajar Aswad berkaitan erat dengan masa pembagunan kembali Ka'bah oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Hal ini selaras dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 127 mengenai peninggian fondasi Baitullah.

Peristiwa bersejarah lain terjadi sebelum masa kenabian Muhammad SAW. Saat renovasi Ka’bah akibat banjir, timbul perselisihan besar antar-kabilah Quraisy mengenai pihak yang berhak meletakkan kembali Hajar Aswad.

Dengan kebijaksanaannya, Muhammad SAW membentangkan kain, meletakkan batu tersebut di tengahnya, dan meminta setiap pemimpin suku memegang ujung kain bersama-sama sebelum beliau menempatkannya kembali. Langkah diplomatis ini berhasil mencegah pertikaian antar-suku di Makkah.

Penegasan Tauhid dan Sunnah

Umat Islam memuliakan Hajar Aswad bukan sebagai bentuk kemuliaan, melainkan murni untuk menjalankan sunnah Rasulullah SAW. Hal ini dipertegas oleh pernyataan sahabat Umar bin Khattab RA saat mencium batu tersebut, yang menekankan bahwa Hajar Aswad tidak memberikan manfaat maupun kemudaratan secara mandiri.

Di tengah padatnya area tawaf saat ini, jamaah tidak diwajibkan memaksakan diri mendekati atau mencium Hajar Aswad. Mengangkat tangan ke arah batu tersebut dari kejauhan sambil mengucapkan "Bismillahi Allahu Akbar" sudah memenuhi kesunahan, karena menjaga keselamatan diri serta sesama jamaah jauh lebih diutamakan dalam syariat.

Sebagai pendamping perjalanan ibadah, Chatour Travel secara konsisten mengedukasi serta membimbing para jamaah untuk mengutamakan keselamatan selama bertawaf. Meskipun dinamika kepadatan di lapangan kerap membuat jamaah belum berkesempatan memegang Hajar Aswad, pendampingan dari tim Chatour Travel lapangan yakni Tour Leader dan Muthawwif tetap memfasilitasi jamaah untuk dapat mendekat ke area Ka'bah. Banyak jamaah mengaku sangat bersyukur dan terharu ketika berkesempatan menyentuh kain Kiswah secara aman dan tertib.

Chatour Travel Umrah Keluarga Bahagia, Haji Bersama yang Tercinta. Bersama Chatour, Pasti Berangkat.

Penulis: Tim Redaksi Chatour Travel
Editor: Redaksi CHA

     

Chat kami melalui WhatsApp

CS Chatour Official 0822 2433 2700
Mulai Chat