Makkah, Chatour Travel – Kepadatan jamaah umrah di area sa’i Masjidil Haram dilaporkan meningkat signifikan menjelang Ramadhan. Pantauan di jalur Safa–Marwah menunjukkan arus jamaah mengalir padat hampir tanpa jeda, terutama selepas waktu shalat fardhu dan menjelang malam hari. Pada titik akhir putaran ketujuh, sebagian jamaah masih terlihat kembali melalui jalur masuk, berlawanan dengan ribuan jamaah lain yang masih melaksanakan sa’i.
Pergerakan berlawanan arah di tengah kondisi padat ini dapat memperlambat arus utama dan meningkatkan risiko desakan di lorong tertentu. Jika arus terganggu, jamaah lansia, pengguna kursi roda, hingga keluarga yang membawa anak kecil bisa mengalami kesulitan. Tidak sedikit pula jamaah yang terpisah dari rombongan karena kondisi terlalu padat.
“Tubuh Sudah Lelah, Jangan Ditambah Melawan Arus”
Nanang Fachruroji, Agen Resmi Chatour Travel, menegaskan bahwa tidak disiplin mengikuti arus saat melaksanakan sa’i dapat membahayakan yang lain.
“Banyak jamaah tidak sadar bahwa melawan arus setelah sa’i justru membuat dirinya lebih capek dan membahayakan yang lain. Padahal ada jalur keluar yang sudah diatur dan jauh lebih nyaman,” ujarnya. Menurutnya, edukasi kecil seperti ini penting terutama bagi jamaah Indonesia yang baru pertama kali umrah.
“Kadang kita hanya ingin cepat kembali ke hotel, tapi lupa bahwa keselamatan bersama lebih utama,” tambahnya.
Setelah tahalul di Marwah, jamaah sebaiknya langsung mengikuti jalur keluar resmi. Tidak perlu kembali ke lintasan sa’i. Ini penting untuk keselamatan dan kenyamanan. Jalur tersebut mengarah ke sisi luar gedung Safa–Marwah dan membawa jamaah menuju kawasan sekitar Abraj Al Bait Clock Tower yang lebih lapang.
Banyak Jamaah Masih Salah Memahami Sa’i
Selain berjalan melawan arus, pembimbing ibadah juga menyoroti sejumlah kesalahan yang masih sering terjadi saat sa’i. Hal ini umumnya terjadi karena jamaah hanya mengikuti orang lain tanpa memahami dasar ibadah. Beberapa kesalahan yang masih sering ditemui dan sebaiknya di hindari agar Sa’i bisa lebih khusyuk:
- Menganggap Sa’i Harus Sampai Puncak Bukit
Sebagian jamaah beranggapan sa’i belum sah jika tidak naik ke puncak Safa and Marwa. Padahal, dalam tuntunan syariat, cukup berjalan sampai lereng bukit. Tidak perlu memaksakan diri, apalagi jika kondisi fisik tidak memungkinkan.
- Salah Memahami Jumlah Putaran
Sa’i dilakukan sebanyak tujuh kali perjalanan antara Safa dan Marwah. Perjalanan dari Safa ke Marwah dihitung satu putaran, dan kembali ke Safa dihitung putaran kedua. Kesalahan ini masih terjadi karena kurangnya pemahaman teknis.
- Berlari di Semua Putaran
Sunnah berlari kecil hanya berlaku bagi laki-laki di area antara dua lampu hijau. Wanita cukup berjalan cepat. Namun, sebagian jamaah masih berlari sepanjang lintasan karena mengikuti orang lain.
- Melakukan Idh-tiba Saat Sa’i
Idh-thibaa' adalah membuka bahu kanan dengan meletakkan kain ihram di bawah ketiak kanan dan menyampirkannya di atas bahu kiri. Idh-thibaa' hanya dilakukan saat thawaf bagi laki-laki. Melakukan idh-tiba saat sa’i termasuk kesalahan, meskipun tidak membatalkan ibadah.
- Bertakbir Seperti Sholat di Bukit Safa dan Marwah
Ada jamaah yang bertakbir dengan gerakan seperti sholat. Padahal yang disunnahkan adalah berdoa, memuji Allah, dan bertakbir dengan menghadap kiblat tanpa gerakan khusus.
- Tetap Sa’i Saat Adzan Berkumandang
Ketika waktu sholat tiba, jamaah dianjurkan berhenti dan menunaikan sholat. Setelah itu, sa’i dapat dilanjutkan dari titik terakhir.
- Melaksanakan Sholat Dua Rakaat Setelah Sa’i
Tidak ada sunnah khusus sholat setelah sa’i. Yang dianjurkan adalah memperbanyak doa dan dzikir.
- Menganggap Sa’i Harus Langsung Setelah Tawaf
Jamaah boleh beristirahat sebelum sa’i jika lelah. Istirahat justru membantu menjaga kekhusyukan.
Ramadhan: Puncak Lonjakan Umrah
Ramadhan dikenal sebagai periode dengan intensitas jamaah tertinggi di Masjidil Haram. Kepadatan dapat berlangsung hampir sepanjang hari, terutama pada 10 hari terakhir bulan suci. Disiplin mengikuti arahan petugas dan pembimbing ibadah menjadi faktor utama menjaga keselamatan bersama. Chatour Travel menegaskan bahwa bimbingan ibadah tidak hanya berfokus pada rukun dan doa, tetapi juga edukasi teknis agar jamaah lebih tenang, aman, dan khusyuk.
“Ketertiban adalah bagian dari adab ibadah. Ibadah yang baik tidak hanya sah, tetapi juga menjaga kenyamanan jamaah lain,” tambah Haikal Ridha, Manager Chatour Travel
Imbauan ini menjadi pengingat penting bagi calon jamaah umrah Ramadhan agar mempersiapkan diri secara spiritual, fisik, dan teknis.
Penulis: Tim Redaksi Chatour Travel
Editor: RedaksI CHA